Pemilik Indekos Tewas Membusuk

LSM PELIK – Listrik padam membuat Muhammad Habibie (18) meninggalkan kamar indekosnya, Selasa (31/10) siang. Dia bermaksud menanyakan padamnya listrik itu kepada pemilik indekos. Hanya, setiba di rumahnya, kecurigaan menyelimuti benak Habibie. Dia lantas lupa dengan niat awalnya.

Rumah itu tertutup rapat. Perhatiannya tertuju ke jendela yang menunjukkan banyak lalat berseliweran di dalam rumah itu. Saat membuka jendela, hidungnya langsung disesaki bau tak sedap.

Menengok ke bagian dalam, keadaan rumah itu gelap. Empat jendela di sekitar rumah tersebut tertutup tirai, kecuali yang dia buka. Mengandalkan cahaya dari sana, dia melihat cairan hitam berceceran di lantai. Saat menelusuri sumbernya, dia terkaget ketika melihat betis kanan yang mulai menghitam.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” ucapnya spontan kala mengenali bagian tubuh itu. Kaki itu milik M Nur Ilhamsyah (57), pemilik indekos yang selama ini tinggal sendiri.

Setelah pintu didobrak hingga terbuka, aroma menyengat lebih menyeruak. Sembari menutup hidung, dia mendapati gambaran jasad Ilhamsyah yang lebih lengkap. Tubuhnya mulai membusuk. Teriakan meminta tolong Habibie mengagetkan warga sekitar lokasi kejadian. Dia lantas berlari ke kediaman ketua rukun tetangga (RT) dan menghubungi aparat berwajib.

“Saya nge-kos di tingkat 2. Nah, pulsa listrik habis, saya kira sebelumnya mati listrik,” ujar Habibie. Dia mengaku sudah mencium aroma tak sedap itu sejak Sabtu (28/10). Kematian Ilhamsyah pun masuk dalam daftar kemungkinan di benaknya. Lantaran, sejak Kamis (26/10), sang bapak indekos tidak bisa dihubungi. “Status WA (WhatsApp, aplikasi pesan singkat) terakhir aktif Kamis pukul 17.35 Wita,” ungkapnya.

Bagi warga sekitar, Ilhamsyah adalah sosok yang baik meski tak banyak berkomunikasi dengan tetangga. Hal itu juga dirasakan Habibie. “Terkadang kalau telat bayar indekos tidak dipermasalahkan,” sebutnya. Setiap pagi, sebelum menjalani aktivitas di kampus, Ilhamsyah kerap menyapa para penghuni indekosnya.

Kabar kepergian Ilhamsyah jadi duka bagi Shadaz Azmi Nuzband (20), anak ketiganya. Azmi menuturkan, sejak ibunya meninggal beberapa tahun lalu, ayahnya memilih tinggal sendiri di rumah indekos itu. Senada dengan Habibie, terakhir dia berkomunikasi dengan Ilhamsyah pada Kamis. “Itu yang terakhir berkomunikasi dengan beliau (Ilhamsyah) karena mengantarkan obat,” tutur Azmi.

Ayah empat anak itu punya riwayat penyakit asam urat. Namun, polisi masih ingin memastikan benar-benar penyebab kematian Ilhamsyah. Jasadnya pun dibawa ke RSUD AW Sjahranie untuk divisum. “Belum bisa berkomentar banyak, karena secara pandangan cukup susah diketahui apakah ada luka atau tidak,” tegas Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Seberang Iptu Dedi Setiawan.

(Sumber : kaltim.prokal.co)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *