Listrik Kaltim Belum Andal

LSM PELIK – Balikpapan, Keandalan jaringan listrik Kaltim masih jadi pekerjaan rumah bagi PLN. Sebab, faktor cuaca bisa menyebabkan gangguan sehingga setrum padam berjam-jam. Celakanya, masalah itu bisa berbuntut panjang hingga terjadi blackout.

Gangguan listrik yang menyebabkan padam total itu sebenarnya bukan yang pertama. Dari catatan Kaltim Post, masalah serupa pernah terjadi pada 8 Agustus 2014. Bahkan, pemadaman terjadi sehari jelang pencoblosan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Blackout itu terjadi pukul 02.45 Wita. Walhasil, pelanggan PLN di Samarinda, Balikpapan, dan sebagian Kukar yang dilayani Sistem Mahakam tak menikmati setrum saat menjalankan sahur.

Hal itu terjadi karena crane di atas ponton Danny 9 yang membawa kayu log tersangkut kabel transmisi Sistem Mahakam. Kabel General Electric PLTU Tanjung Batu yang menghubungkan sirkuit Tengkawang dengan Harapan Baru, Samarinda, sepanjang 620 meter, tak jauh dari Jembatan Mahakam, putus seketika. Pemadaman listrik saat itu berlangsung selama 16 jam.

Kemudian, pada 29 April 2017, warga Samarinda harus menjalani malam dengan gelap-gulita. Perawatan pembangkit listrik dari PLN disebut tak berjalan sesuai rencana. Walhasil, setrum padam hingga berjam-jam. Aktivitas warga pun nyaris lumpuh.

Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Kaltimra Wijayanto Nugroho kala itu mengatakan, PLN Kaltim-Kaltara (Kaltimra) melakukan perawatan pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Tengkawang di Sungai Kunjang, Samarinda, pukul 14.00 Wita. Agar perawatan berjalan lancar, PLN kemudian melakukan pemadaman.

Sesuai jadwal, pembangkit ini kembali beroperasi dan masuk ke Sistem Mahakam 1–2 jam kemudian. Namun, insiden meledaknya trafo membuat rencana berantakan. Listrik baru kembali normal pada pukul 01.00 Wita. Dengan begitu, selama 11 jam sebagian besar pelanggan PLN di Kota Tepian terpaksa melewati malam tanpa listrik.

Dua hari lalu, blackout kembali terjadi. Pemadaman listrik harus diderita pelanggan di Balikpapan, Samarinda, sebagian Kutai Kartanegara, dan Bontang. Bahkan, listrik padam sudah terjadi sejak pukul 09.30 Wita. Namun, saat waktunya kembali hidup, setrum mengalami blackout. Listrik mulai hidup pada pukul 19.30 Wita.

Gangguan terjadi karena jaringan Sistem Mahakam disambar petir. Sambaran itu memutus transmisi 150 kilovolt (kV) pada jalur Manggar Sari–Karang Joang (Balikpapan). Penyulang yang disuplai gardu induk (GI) Manggar Sari, GI Industri (Gunung Malang), dan PLTG Senipah, padam karena gangguan transmisi.

Sebagai informasi, penyulang adalah jaringan PLN yang berfungsi mengalirkan listrik dengan tegangan 20.000 volt. Dari gardu induk menuju gardu distribusi. Nantinya di gardu distribusi ini, listrik diubah tegangannya menjadi 380 volt atau 220 volt. Selanjutnya, disalurkan ke pelanggan perusahaan pelat merah tersebut.

Kemarin (1/10) PLN Kaltimra mengklaim telah melakukan evaluasi. PLN sadar tingkat keandalan transmisi listrik mereka masih belum matang setelah disambar petir. Rencana hari ini (2/10), mereka rapat untuk membahas persoalan tersebut. Bagaimana menangkis serangan alam.

“Penangkal petir sudah ada. Namun, bagaimana juga ini musibah (force majeure). Kami pun tidak ingin seperti kemarin (Sabtu). Karena itu besok (hari ini) kami rapatkan bersama. Saya juga belum bisa jawab pertanyaan seputar upaya selanjutnya. Tetapi, yang pasti kami sampaikan, jika listrik sudah kembali normal sejak Sabtu, pukul 21.00 Wita,” terang Wijayanto Nugroho.

Pria yang akrab disapa Nano itu mengatakan, hari ini juga akan menggelar pertemuan di Hotel Novotel Balikpapan. Dalam pertemuan itu, pihaknya mengundang awak media. Di acara ini juga akan menghadirkan General Manager PLN Kaltimra Riza Novianto Rustam. Pihaknya juga akan menjelaskan seputar kelistrikan di Kaltim.

KRITIK WAKIL RAKYAT

Kondisi blackout di Kaltim Sabtu (30/9) menjadi perhatian anggota DPD RI dari daerah pemilihan Kaltim dan Kaltara Aji Muhammad Mirza Wardana. Mirza mengakui, PLN hingga kini belum andal jika menghadapi force majeure.

“Saya pun sebelumnya saat reses lalu, sudah bertemu dengan PLN Kaltimra. Mereka mengakui jika jaringan listrik rentan dengan gangguan alam. Namun, mereka sudah punya perencanaan yang hingga kini belum dijalankan,” ungkap Mirza, kemarin (1/10).

Perencanaan tersebut belum bisa berjalan karena terkendala anggaran. Alternatif tunggal adalah berharap kejadian serupa tidak terulang. Selebihnya, PLN diminta menjelaskan kepada masyarakat kondisi yang sebenarnya. Agar masyarakat paham jika terjadi pemadaman.

“Kejadian ini bukan hanya terjadi sekali. Namun sudah berkali-kali. Ada perencanaan ke arah meningkatkan keandalan jaringan dan transmisi PLN. Tapi terkendala anggaran. Soal ini sudah kami serap sebagai bentuk aspirasi dan sudah ada laporannya. Namun yang terpenting sekarang adalah bagaimana PLN memberikan informasi mengenai sistem kelistrikan. Sehingga masyarakat bisa mengerti,” paparnya.

Dengan begitu, jargon surplus listrik tidak akan menjadi bumerang. Artinya, masyarakat yang selama ini mendapat informasi listrik surplus hingga 200-an MW, beranggapan blackout tidak akan terjadi. Apalagi persoalannya hingga kini masih terdapat jarak antara PLN dengan pemerintah.

“Yang saya inginkan ada bantuan pula dari pemerintah daerah untuk mendukung langkah PLN meningkatkan keandalan. Selama ini banyak kendala yang terjadi ketika PLN membangun jaringan atau transmisi baru itu terbentur oleh lahan. Jadi, pemerintah bisa bantu di sana,” ucapnya.

Anggota Komisi III DPRD Kaltim Syafruddin menegaskan, surplus listrik tak sesuai dengan fakta di lapangan. Nyatanya biarpet kerap terjadi di kabupaten/kota di Benua Etam. Bahkan masih banyak desa-desa yang belum teraliri listrik.

Sementara itu, peristiwa blackout yang terjadi Sabtu (30/9) lalu, menurut dia, hanya sebagian kecil dari pelbagai masalah kelistrikan yang gagal diantisipasi PLN sampai saat ini. “Apapun itu, rakyat sekarang jadi korban. Contoh biarpet kemarin (Sabtu). Itu sangat fatal. Tidak tahu sudah berapa banyak peralatan elektronik yang rusak dan aktivitas warga terganggu,” tegas Syafruddin.

Berdasarkan catatan dia, di konstituennya ada tujuh hingga delapan kecamatan di Kutai Timur (Kutim) yang sama sekali belum menerima pasokan listrik. Di antaranya, Kecamatan Kaliurang, Karangan, Batu Ampar, Long Mesangat, dan Busang.

“Di kota biarpet sudah heboh. Di daerah pedalaman, warga belum menikmati listrik PLN. Mereka amat tertinggal. Bahkan bukan hanya listrik, akses jalan pun tidak ada, seperti di Kecamatan Sandaran dan Busang di Kutim,” bebernya.

PROYEK LISTRIK

Di Kaltim, pembangunan PLTU 2×7 MW di Tanah Grogot, Paser, dipastikan batal terealisasi. Sesuai kontrak, tahun ini setrum dari PLTU tersebut dibeli PLN. Namun, kenyataan di lapangan, konstruksi pembangkit belum 50 persen. Unit Induk Pembangunan (UIP) PLN Kalimantan Bagian Timur (Kalbagtim) pun berencana memutus kerja sama dengan kontraktor.

General Manager PLN UIP Kalbagtim Zulfikar menuturkan, pihaknya memiliki beberapa opsi agar proyek ini tidak menjadi beban bagi masyarakat. Antara mengganti gardu, memberi kesempatan perpanjangan waktu, atau diputus kontrak. Dia melanjutkan, pada dasarnya, pembangunan pembangkit di Kaltim-Kaltara memang mengalami penyesuaian dari target semula.

Jadi, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2016–2025 yang menjadi pedoman pembangunan pembangkit di Indonesia akan diubah. “Revisinya belum kami terima. Perubahan lebih kepada jadwal COD (commissioning operating date), beberapa (pembangkit) mundur,” katanya sembari menyebut RUPTL 2017–2026 adalah pedoman terbaru proyek listrik di Tanah Air.

Sementara itu, PLTU Tanjung Redeb, Berau, disebut telah kembali berjalan pembangunannya. Setelah sebelumnya sempat terhenti. PLN UIP Kalbagtim menolak jika PLTU berkapasitas 2×7 MW itu dikatakan mangkrak.

“Masih sesuai target. Meski begitu ada kendala di akses masuk PLTU. Jadi, posisi jalan masuk diapit lahan milik PT BJU (Bara Jaya Utama) dan hutan kota. Jadi, posisi tanahnya miring sehingga kendaraan yang membawa material kesulitan masuk. Kami mau geser tidak bisa karena ada perjanjian tidak boleh ada penebangan pohon. Tetapi sementara oleh PLN dibantu pengadaan jalan,” paparnya.

Sebagai informasi, daya mampu Sistem Mahakam saat ini sebesar 555,53 MW. Sementara beban puncak mencapai 315,20 MW. Dengan begitu, daya listrik di Kaltim surplus sekitar 240,33 MW. Surplusnya daya itu membuat perusahaan pelat merah tersebut terus menggenjot target penambahan pelanggan baru. Dari RUPTL, PLN memproyeksikan pelanggan listrik tahun ini mencapai 984.106. Tahun depan 1.048.646 pelanggan. (lihat grafis).

(Sumber : kaltim.prokal.co)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *