Kinerja Apik Polda Kaltim, Berantas Pungli hingga Luncurkan Aplikasi

LSM PELIK, Balikpapan – Hari ulang tahun (HUT) ke-71 Bhayangkara jatuh pada 1 Juli lalu. Beragam pekerjaan rumah menumpuk pada hari jadi Polri tersebut. Sejumlah kasus sudah berhasil diungkap. Dengan harapan, aparat terus memberikan rasa aman dan nyaman kepada publik.

Korps Bhayangkara kini terus berbenah. Mulai dalam hingga luar. Seperti pungutan liar (pungli), makelar kasus, dan kekerasan dalam masyarakat. Upaya tersebut sudah berjalan dalam dua tahun terakhir. Usia yang ke-71, sama halnya manusia yang sudah kenyang pengalaman. Ketika berbenah melayani masyarakat dengan cepat, masih ada saja yang belum maksimal.

“Semua butuh proses. Polri ke depan terus berbenah,” terang Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin. Selama ini, polisi menemani masyarakat Indonesia dengan satu tujuan memberikan pelayanan prima.

Sejumlah kasus menonjol diungkap setahun terakhir hingga aplikasi layanan dengan sistem online pun telah difungsikan. “Ini memudahkan masyarakat membuat pengaduan dan pelayanan kepolisian lainnya,” ujar alumnus Akpol 1984 itu. Selama Polri berdiri, negara ini telah merdeka dan kepolisian terus mengamankan Tanah Air dari ancaman asing maupun lokal.

Pun begitu dengan beragam dinamika harus dihadapi masyarakat dalam hubungannya bersama Polri. Selama ini, berbagai macam persepsi publik telah terbentuk untuk menilai kepolisian. Tak terkecuali masyarakat Kaltim.

Dia tak menampik ketika masih ada saja anggotanya yang “nakal”. Artinya, bertugas di luar fungsi dan tanggung jawabnya. “Anggota saya ribuan. Wajar masih satu dua orang yang tak sesuai prosedur dalam bertugas,” ungkapnya. Misalnya saja karena tersangkut narkoba. “Saya instruksikan pecat ketika terbukti,” tegasnya.

Pengawasan secara berkala juga dilakukan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Kaltim. Peningkatan disiplin di antaranya. Tak hanya warga sipil yang melakukan pungli, oknum pun jika terbukti langsung diproses. “Kalau tidak salah, ada tiga anggota polisi. Mereka melakukan pungli ke orangtua calon siswa polisi yang hendak mendaftar. Kini, polisi itu sudah diproses,” bebernya.

Ke depan, jenderal bintang dua yang rutin berkhotbah Jumat keliling masjid-masjid itu berharap Polri lebih profesional, modern, dan dapat meraih kepercayaan masyarakat. “Semakin hari ancaman dan tantangan tugas Polri juga semakin berat. Maka, kinerja harus ditingkatkan,” paparnya. Ancaman tersebut salah satunya adalah para pelaku teror yang menarget polisi sebagai sasaran.

Saat patroli, persenjataan lengkap sudah dibekali seperti pada umumnya. Pasukan elite Polri ini mewanti-wanti serangan yang mendadak datang. Kewaspadaan itu ditingkatkan setelah serangan terhadap anggota Polri bisa terjadi kapan dan di mana saja. Sehingga dia mewanti-wanti anggotanya di lapangan. Ketika sedang bertugas di pos atau berbaur di masyarakat, mereka tetap memperhatikan keamanan. “Saling mengawasi dan melindungi,” tuturnya.

Polda Kaltim, kata dia, mewaspadai adanya serangan susulan. Yang dilakukan teroris menyusul penyerangan pos penjagaan di Markas Polda Sumatra Utara, Medan, Minggu (25/6), serta penikaman anggota Brimob di Jakarta, belum lama ini. “Kami tetap waspada bahwa kemungkinan serangan terhadap Polri masih tetap ada,” ungkapnya. Peningkatan kewaspadaan telah dilakukan sejak sebulan lalu kini ditingkatkan.

Menurutnya, tak hanya polda, semua markas polres hingga polsek, pos dan lainnya harus mewaspadai teror. Selain itu, pihaknya menyebar intelijen di seluruh wilayah termasuk koordinasi dengan Densus 88 Antiteror. Ini untuk mengantisipasi ada kelompok tertentu masuk ke Kaltim/Kaltara. Koordinasi lintas sektoral juga mencegah penyebaran paham radikal anti-Pancasila.

Kepala Bidang Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Ade Yaya Suryana menambahkan, anggota di lapangan tetap waspada. “Masyarakat silakan beraktivitas seperti biasa,” pintanya. Sejumlah wilayah di Kaltim dan Kaltara ada yang menjadi pintu gerbang keluar-masuknya teroris. Antara lain Balikpapan, Samarinda, dan Tarakan. “Ada potensi tiga kota tersebut. Namun, tak menutup pula kota lainnya, kami antisipasi,” bebernya.

Kembali ke Safaruddin, dia menilai wilayah Kaltim dan Kaltara sangat luas dan banyak pintu masuk. Baik menggunakan transportasi darat, laut maupun udara. “Dekat pula dengan perbatasan Filipina dan Malaysia,” urainya.

Pihaknya melakukan deteksi dini melibatkan tokoh masyarakat, adat, agama, RT setempat, ditambah anggota berpakaian sipil memantau. “Babinkamtibmas rutin blusukan ke kampung-kampung,” katanya.

Kisah Ali Imron, adik Amrozi yang terlibat dalam Bom Bali I, tak boleh terulang. Ali Imron ditangkap di Tanjung Berukang, Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar) pada 13 Januari 2013. Menurut Kapolda, Kaltim memang rentan menjadi tujuan para terduga teroris. Sebagai contoh, jaringan teroris Santoso cs di Kota Poso, Sulawesi Tengah. Dikejar Polri dan TNI sejak Oktober 2015, pelaku teror bisa lari ke Kaltim dan Kaltara.

Di Nunukan, Kaltara, jalur itu tersedia baik darat maupun laut. Patut diingat, Ali Imron yang ditangkap di Kukar juga berniat kabur ke Malaysia. Namun, dia lebih dulu ditangkap Densus Antiteror.

Safarudin menyatakan, kelompok yang juga terus diwaspadai adalah ISIS. Propaganda golongan yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah itu juga sempat terekam di Kaltim.

Ia berharap, masyarakat segera melaporkan jika mengetahui pergerakan ISIS atau kelompok lain yang mencurigakan. Mantan Wakabaintelkam Mabes Polri itu mengatakan, sudah menerapkan pola deteksi dini. Petugas wajib mendatangi masyarakat.

Selain silaturahmi dengan tokoh agama, masyarakat, dan adat, mereka berkomunikasi intens. Para pemuka itu bisa memberikan informasi sehingga kepolisian bisa sedini mungkin mencegah hal yang tak diinginkan. “Ketika ada orang asing yang mencurigakan di lingkungan, cepat diinformasikan,” sebutnya.

Alumnus Akpol 1984 itu tak membantah bahwa Kaltim dan Kaltara sangat rawan sebagai tempat persembunyian. “Saya sudah komando jajaran agar menjaga kedekatan dengan masyarakat. Bahkan sampai tingkat desa, kecamatan, dan RT,” jelasnya.

Pernah pula jaringan ISIS terduga teroris bernama Fajrul Slan (27) ditangkap aparat Densus di sebuah rumah RT 59 Jalan Swadaya 1, Kelurahan Sepinggan Baru, Balikpapan Selatan pada Januari 2016. Sementara November 2016, ledakan bom molotov terjadi di Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda. Meski pelaku bom dan sindikatnya telah diringkus, namun kewaspadaan terus ditingkatkan.

(Sumber : prokal.co)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *