Juragan Angkot Dibantai, Siapa Yang Datang Pada Subuh Itu…?

LSM PELIK – Samarinda, Salat Subuh berjamaah di Masjid As Syuhada, kemarin (30/6) Jalan Cipto Mangunkusumo, RT 09, Kelurahan Sengkotek, Loa Janan Ilir ternyata jadi ibadah terakhir H Baheri, dan Hj Tasnani Zake. Pasangan suami istri (Pasutri) berusia 54 tahun tewas mengenaskan setelah jadi korban perampokan.  Diperkirakan kasus pencurian dengan kekerasan itu terjadi setelah keduanya tiba di rumah usai menjalankan salat berjamaah.

SUASANA di kawasan padat penduduk Jalan Cipto Mangunkusumo, RT 9, Kelurahan Sengkotek, Loa Janan Ilir, pukul 15.15 Wita, mendadak riuh. Puluhan warga berdesak-desakan di depan salah satu rumah bertingkat nomor 7, tepat di seberang Masjid As Syuhada, yang dihuni Baheri dan Tasnani Zake.
Di antara warga tampak pula polisi berpakaian dinas. Mereka bersama-sama berupaya membongkar gembok rolling door rumah juragan angkutan kota (Angkot) Trayek K yang sejak pagi tak kunjung terbuka.

Begitu pintu besi hijau dibuka, warga pun langsung gempar. Pasalnya Baheri serta Tasnani Zake tergeletak bersimbah darah di ruang tengah. Melihat hal itu polisi sigap dan langsung meminta warga keluar. Garis polisi dibentang, pintu utama dijaga ketat. Dan saat itu juga polisi mulai melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Jasad Baheri berada di kanan jasad istrinya, tertindih bagian bawah ranjang dengan luka tusuk di leher depan. Sedangkan kondisi Tasnani lebih parah dengan luka tusuk di ulu hati, pinggang sebelah kanan serta luka robek cukup besar di bagian kepala akibat bacokan benda tajam.

Kesadisan pelaku yang belum diketahui identitasnya ini terlihat dari ceceran darah kepala Tasnani yang berjarak 30 centimeter dari bagian ubun-ubunnya. Diduga darah tersebut muncrat saat pelaku menebaskan senjata tajamnya saat korban sudah tergeletak di lantai.

Diduga kuat pasutri ini tewas mengenaskan akibat kasus perampokan. Pasalnya tak hanya berjarak dua meter dari lokasi keduanya tergeletak, lemari pakaian terbongkar dan berantakan. Diduga hal ini dilakukan pelaku untuk mencari barang berharga yang disimpan korban di dalam lemari.

“Awalnya pak Amirudin, warga saya datang ke rumah memberitahukan bengkel pak haji (panggilan akrab H Baheri) tidak buka sejak pagi,” tutur Ketua RT 9, Agus kepada Sapos.
Merasa ada sesuatu yang aneh, Agus dan Amirudin mendatangi kediaman Baheri lalu mengintip dari celah rolling door yang sedikit terbuka. “Yang saya dan warga (Amirudin, Red) lihat cuma kakinya saja. Tubuhnya tertindih ranjang,” ujar Agus.

Agus awalnya tak tahu tubuh siapa yang tertindih ranjang itu. Apakah Baheri atau Tasnani, yang hanya tinggal berdua. “Sebenarnya ada keponakannya yang biasa membantu perbaiki angkot. Namanya Fadli. Tapi setahu saya, keponakannya itu pulang kampung ke Sulawesi sebelum Lebaran,” ucap Agus.

Perasaan curiga terjadi apa-apa dengan Baheri serta istrinya, Tasnani. Agus bergegas memberitahu Amirudin agar melaporkan ke Pos Polisi yang berada tak jauh dari tempat kejadian. “Setelah polisi datang baru kami bongkar gemboknya sama-sama dan ketika masuk ternyata pak haji dan istrinya sudah meninggal,” tutur Agus.

Ditemukannya Baheri dan Tasnani dalam keadaan tewas mengenaskan membuat warga mengelus dada. kabarnya pasutri itu terakhir terlihat sempat melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid yang tepat berada di seberang rumah sekaligus bengkel mereka. “Banyak warga yang sempat bertemu dengan kedua almarhum ketika salat subuh tadi (kemarin, Red),” tegas Agus.

Namun tak ada yang tahu selanjutnya apa yang terjadi pada kedua korban. Begitu pula dengan Hamdan (52), warga yang rumahnya tepat berada di sebelah tempat tinggal Basri dan Tasnani. “Setelah salat subuh saya sempat dengar ada orang berbicara di dalam rumah almarhum. Bicaranya pakai bahasa daerah. Karena saya pikir tak ada apa-apa, ya saya tak mempedulikan,” ujar Hamdan.

Meski mendengar ada suara orang berbicara, Hamdan tak mendengar adanya suara gaduh. “Saya cuma dengar suara orang berbicara. Memakai bahasa daerah, karena sehari-harinya almarhum berbicara dengan bahasa daerah,” ucap Hamdan menegaskan. Selesai diidentifikasi jasad pasutri malang itupun lantas dilarikan ke kamar jenazah RSUD IA Moeis, yang kemudian dirujuk ke RSUD AW Sjahranie guna kepentingan autopsi.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Reza Arief Dewanto yang turun ke TKP menjelaskan, untuk sementara pihaknya belum bisa memastikan apa motif di balik pembantaian sadis terhadap Basri dan Tasnani. “Kami masih mengumpulkan informasi dan bukti-bukti serta memeriksa apakah ada barang berharga korban yang hilang. Kami juga memintai keterangan beberapa saksi guna kepentingan penyelidikan,” pungkasnya.

(Sumber : Sapos)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *