Jokowi Awali KTT G-20 Dengan Bertemu PM Australia

LSM PELIK – Presiden Joko Widodo tiba di Hamburg, Jerman, hari ini (7/7), untuk menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 yang berlangsung hingga 8 Juli besok.

Mengawali kegiatannya di KTT G-20, Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull pada Jumat pagi.

“Setelah bertemu PM Turnbull, Presiden Jokowi melanjutkan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte juga,” ujar Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, melalui rilis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden RI yang diterima CNNIndonesia.com.

Meski hubungan antara Indonesia dan Australia tak selalu harmonis, selama ini Jakarta dan Canberra bisa mempertahankan kedekatan dan kerja sama kedua negara.

Pasang surut hubungan kedua negara sudah terjadi sejak lama, terutama saat masa pemisahan diri Timor Timur dari Indonesia pada 1999. Isu pemisahan diri wilayah terluar Indonesia memang menjadi salah satu hal sensitif yang kerap memantik ketegangan kedua negara.

Pada 2006, hubungan kedua negara tegang karena Australia memberikan suaka politik kepada warga Papua yang tidak sedang dalam pengejaran aparat. Enam tahun kemudian, tepatnya 2012, Indonesia mencurigai Australia memberikan dukungan kepada Organisasi Papua Merdeka setelah sebuah toko di Perth memajang bendera OPM.

Tak hanya isu separatisme, hubungan kedua negara juga sempat diguncang masalah lain. Pada 2011, misalnya, warga Australia mendesak pemerintah menghentikan ekspor sapi ke Indonesia setelah sebuah tayangan di televisi menunjukkan penjagalan dan penyiksaan sapi di Indonesia.

Hubungan kedua negara kembali terguncang ketika pada 2013, WikiLeaks membocorkan dokumen berisi bukti Australia menyadap telepon seluler Presiden Susilo bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat lain.

Pada 2015, ketegangan kembali terjadi ketika Indonesia menolak permohonan grasi Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, anggota komplotan pengedar narkoba asal Australia yang dikenal dengan julukan Bali Nine.

Meskipun terus mengalami pasang surut, sejumlah pengamat yakin hubungan kedua negara tidak akan pernah putus dalam jangka waktu lama. Sebab, Jakarta dianggap sebagai salah satu rekan yang penting bagi Canberra di kawasan.

Selain PM Australia dan Belanda, di sela-sela KTT G-20 rencananya Presiden Jokowi akan bertemu dengan sekitar lima pemimpin negara lain, salah satunya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pertemuan dengan Trump sendiri saat ini masih terus diatur penentuan jadwalnya. Retno mengatakan, pertemuan antara Jokowi dan Trump akan menjadi kesempatan perdana kedua negara untuk duduk bersama, meski sebelumnya kedua pemimpin sudah berbicara melalui sambungan telepon.

“Jadi banyak sekali yang minta kita untuk Presiden melakukan pertemuan bilateral. Kita semuanya sedang mengatur jadwalnya, tetapi sejauh ini yang konfirm tercatat sudah enam,” kata Retno.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *