Cuma Tipiring, Perompak Mahakam Tak Kapok

LSM PELIK – Samarinda, Perompakan kepada armada pengangkut batu bara di Sungai Mahakam kembali marak. Penjarahan batu bara hingga permintaan jatah solar menjadi makanan sehari-hari yang dinikmati awak kapal tugboat pengangkut emas hitam yang melintas di alur Mahakam tersebut.

Aparat pun tahu dan terus memburu mereka. Sayangnya, ketegasan polisi tak berbuah efek jera. Bagaimana mau jera, rata-rata pelaku yang tertangkap hanya dikenai hukuman tindak pidana ringan (tipiring). Di mana pelaku diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama 3 bulan dan/atau denda sebanyak-banyaknya Rp 7.500 (dengan penyesuaian) dan penghinaan ringan, kecuali pelanggaran lalu lintas.

Meski demikian, aparat tak bosan berburu penjahat perairan tersebut. Kapolsekta Kawasan Pelabuhan (KP) Samarinda Kompol Erick Budi Santoso mengatakan, pihaknya tak tinggal diam. Namun, tindakan hukum belum bisa maksimal. “Bagaimana mau menjerat, kalau yang korban sendiri tak melapor,” ujar Erick. Polisi juga tak segan bertindak tegas terhadap pelaku perompak itu. “Kalau memang melawan dan membahayakan nyawa anggota, kenapa tidak,” tegas perwira berpangkat melati satu tersebut.

Aksi penjarahan di alur Mahakam itu memang masalah akut dan terus-menerus terjadi. Perputaran pundi-pundi uang yang diperoleh pelaku kejahatan itu jumlahnya menggiurkan. Kaltim Post pun mencoba menelusuri aktivitas perompak di Sungai Mahakam. Selepas Jembatan Mahkota II, perahu-perahu kecil hingga berukuran berusaha mendekat ke tugboatyang mayoritas menarik emas hitam.

Didominasi pria, dengan hanya bermodal sekop dan perahu berukuran sedang dengan mudah menjarah batu bara untuk dipindahkan ke perahu. Nyaris lima sampai tujuh kapal yang menjarah batu bara secara bergantian. “Itu bukan hal baru, Mas,” kata seorang nakhoda tugboat. Pria berkumis tipis itu mengaku dalam sebulan bisa lima kali melintas di Mahakam yang mempunyai alur sepanjang 920 km tersebut.

Saking seringnya, mereka menyiapkan anggaran khusus untuk pelaku yang naik ke kapal. “Ya, benar, kami siapkan anggaran khusus mereka. Dan sekali melintas bisa sampai Rp 1 juta,” ujarnya. Pria yang sudah hampir 20 tahun menggantungkan hidupnya sebagai pelaut itu mengaku, bukan hanya warga sipil yang beraksi. “Terkadang ada juga oknum aparat. Tidak tahu dari mana,” imbuhnya.

Dari kisah pelaut yang namanya enggan dikorankan, setidaknya bisa tergambar jelas. Nestapa ketika melintas di Sungai Mahakam. Jika satu kapal setiap melintas harus menyediakan anggaran hingga Rp 1 juta, hitunglah sebulan 30 kapal yang dijarah, berarti keuntungan yang diperoleh perompak bisa sampai Rp 30 juta dalam sebulan. Setahun, pelaku kejahatan di air itu bisa meraup pundi-pundi hingga Rp 360 juta. Dari penuturan pria yang diwawancarai media ini, kegiatan terlarang itu sudah berlangsung sejak 2012.

Artinya, sudah lima tahun lebih perompak tersebut beraksi menjarah kapal-kapal. Jika dikumpulkan, pelaku perompakan itu sudah memperoleh keuntungan hingga Rp 1,8 miliar.

Kapolsekta Kawasan Pelabuhan (KP) Samarinda Kompol Erick Budi Santoso Erick memang tak menampik aktivitas penjahat di Mahakam itu. Yang jelas, perwira eks kasat Lantas Polres Kukar itu menegaskan, pihaknya bakal terus menindak pelaku kejahatan sungai tersebut.

(Sumber : kaltim.prokal.co)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *